Berseluncur di Gumuk Pasir Parangkusumo

Ketika datang ke Pantai Parangkusumo tak lengkap rasanya jika tak datang ke Gumuk Pasirnya. Hamparan pasir yang lembut nan luas ini terlihat seperti miniatur dari Gurun Sahara di Afrika, dan benar saja karena fonomena yang terjadi di Gumuk Pasir Parangkusumo hampir sama dengan yang terjadi di Sahara. Ketika siang panasnya begitu terik, namun ketika malam tiba suhu langsung drop atau turun drastis menjadi sangat dingin. Dan fonomena Gumuk Pasir ini bisa dikatakan hanya ada satu-satunya di Indonesia.

Hal yang banyak dilakukan ketika berada di Gumuk Pasir Parangkusumo adalah berfoto, berseluncur dengan papan, dan dijadikan lokasi latihan manasik haji.

Terlepas dari itu semua, terkadang kita tidak terbayang bagaimana bisa ada Gumuk Pasir yang lumayan luas di negara tropis, padahal biasanya gurun adanya di negara yang memiliki cuaca panas yang lama seperti afrika.

Pertanyaan yang ada akan terjawab jika anda datang ke Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis. Menurut staf yang berada di sana menagatakan yang intinya seperti ini.

Sungai Opak yang berhulu di lereng Merapi membawa material vulkanik hasil letusan gunung, kemudian ditengan perjalanan aliran sungai Opak bertemu dengan Sungai Oya yang membawa material gampingan dari pegunungan seribu. Semua material yang terbawa arus sungai akhirnya tiba di Laut Selatan, semua material tadi yang sebelumnya sudah tergerus menjadi butiran kecil akan bertambah lembut ketika bertemu dengan ombak Pantai Selatan. Material pasir lembut inilah yang terhempas kepantai dan saking ringannya terbawa angin dan menumpuk menjadi Gumuk Pasir di Parangkusumo.